Globalisasi
membawa manusia pada suatu dunia tanpa batas, globalisasi memicu revolusi di
bidang ICT ( Information and Communication Technology) yang saat ini menjadi
sebuah tantangan bagi generasi muda yang
paling mengkhawatirkan adalah situs jejaring sosial. Dengan berkembangmya
teknologi internet memberikan dampak positif maupun dampak negative bagi
generasi muda, salah satu dampak negative yang paling sering terjadi adalah cyberbullying, dimana pelaku menghina,
melecehkan atau mengejek korban menggunakan media internet melalui ponsel atau
perangkat elektronik lainnya dengan tujuan agar korban merasa terluka dan terganggu.
Ada banyak cara pelaku untuk menyerang korban salah satunya dengan mengirimkan
pesan dan gambar yang melecehkan.[1]
Saat
ini cyberbullying sudah terjadi di
beberapa Negara bukan hanya di Indonesia saja, di negara lain ada banyak kasus cyberbullying yang berakhir dengan
kejadian yang lebih serius seperti bunuh diri.[2]
Walaupun tidak terjadi secara face to face, cyberbullying
juga bisa memakan korban, Hujatan yang diterima seseorang melalui dunia maya
bisa mengganggu kondisi psikologis
seseorang. Sebagai contoh kasus Katie Web, remaja asal Inggris yang bunuh diri
akibat tidak kuat menerima cacian dari teman temannya hanya karena dia tidak
memiliki gaya rambut yang keren dan tidak memakai gaya rambut yang keren dan
tidak memakai pakaian bermerek.[3]
Dari
banyak kasus cyberbullying yang
terjadi, hampir sebagian besar dilakukan oleh anak anak dan remaja, hal ini
terbukti dari data komisi perlindungan anak Indonesia, sejak tahun 2011 hingga
2016 ditemukan sekitar 253 kasus bullying, terdiri dari 122 anak yang menjadi
korban dan 131 anak menjadi pelaku. Namun, selain anak anak dan remaja ada juga
dari kalangan selebriti yang menjadi korban tindakan cyberbullying. Seperti dalam hasil penelitian Jacek Pyzalki (2013)
yang mengatakan bahwa ada kelompok kelompok lain selain teman sebaya yang
sering dibully atau menjadi korban dari tindakan agresi online. Salah satunya
adalah agresi terhadap selebriti (misalnya actor, penyanyi dll). Selain itu,
dalam penelitian Hildawati (2018) mengemukakan bahwa pembenci itu muncul di
sosial media yang sering sekali korbannya adalah selebriti, bahkan beberapa
orang sampai membuat akun haters di sosial media untuk menjelek jelekkan.[4]
Bedasarkan
permasalahan yang diuraikan, perlu sekali untuk melakukan kajian yang lebih
mendalam terkait peristiwa cyberbullying
yang bisa berdampak pada korban seperti marah, dendam, tertekan, malu, depresi
bahkan dampak yang paling ekstreem bisa
mengakibatkan bunuh diri karena merasa bahwa dirinya tidak berharga. Maka dari
itu perhatian dan penanganan khusus untuk korban cyberbullying sangatlah diperlukan, adapun cara mengatasi korban cyberbullying dengan konseling, salah
satunya adalah Konseling Rational Emotif. Pada konseling ini menekankan bahwa
menyalahkan adalah inti sebagian besar gangguan emosional. Oleh karena itu,
jika kita ingin menyembuhkan orang yang neurotik atau psikotik, kita harus
menghentikan penyalahan diri dan penyalahan terhadap orang lain yang ada pada
orang tersebut. Orang perlu belajar untuk menerima dirinya sendiri dengan segala
kekurangannya.
Kecemasan
bersumber pada pengulangan internal dari putusan “Aku tidak menukai tingkah
laku sendiri dan aku ingin mengubahnya” dan kalimat menyalahkan diri “Karena
tingkah laku yang keliru dan kesalahan kesalahanku, aku menjadi tidak berharga,
aku malu dan aku patut menderita.” Menurut rational emotif kecemasan semacam
itu tidak berguna. Orang bisa dibantu untuk menyadari bahwa putusan putusan
irasional yang dipertahankannya itu keliru dan untuk melihat penyalahan diri
yang telah menjebaknya.[5]
Dalam proses melakukan konseling rational
emotif adapun tahap tahapnya adalah sebagai berikut :
Tahap
1 Proses dimana konseli diperlihatkan dan
disadarkan bahwa mereka tidak logis dan irrasional. Proses ini memnbantu klien
memahami bagaimana dan mengapa dapat terjadi irrasional. Pada tahap ini konseli
diajarkan bahwa mereka mempunyai potensi untuk mengubah hal tersebut.
Tahap
2 Pada tahap ini konseli
dibantu untuk yakin bahwa pemikiran dan perasaan negatif tersebut dapat
ditantang dan diubah. Pada tahap ini konseli mengeksplorasi ide-ide untuk
menentukan tujuan-tujuan rasional. Konselor juga mendebat pikiran irasional
konseli dengan menggunakan pertanyaan untuk menantang validitas ide tentang
diri, orang lain dan lingkungan sekitar.
Pada tahap ini konselor menggunakan
teknik-teknik konseling REBT untuk membantu konseli mengembangkan pikiran
rasional. Tahap akhir, konseli
dibantu untuk secara terus menerus mengembangkan pikiran rsional serta
mengembangkan fillosofi hidup yang rasional sehingga konseli tidak terjebak
pada masalah yang disebabkan oleh pemikirian irasional. Jadi tahap-tahap ini merupakan proses natural dan berkelanjutan.
tahap ini menggambarkan keseluruhan proses konseling yang dilalui oleh konselor
dan konseli.[6]
Bedasarkan uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa di era globalisasi saat ini teknologi yang semakin canggih
banyak generasi muda yang salah dalam menggunakan teknologi salah satunya
adalah kasus cyberbullying yang bisa
berdampak depresi hingga bunuh diri terhadap korban, adapun cara menangani
korban cyberbullying dengan konseling
rational emotional.
Cyberbullying
bukanlah persoalan sepele karena cyberbullying bisa berdampak pada depresi, jika anda merasakan tendensi untuk
melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan
tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan
pihak terkait, seperti psikolog, psikiater maupun klinik kesehatan tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Lusi Alisah dkk. Studi Fenomenologis Memahami Pengalaman
Cyberbullying Pada Remaja. Jurnal Sosial Politik. Universitas Diponegoro.
2018
Flourensia Sapty Rahayu. Cyberbullying Sebagai Dampak Negatif
Penggunaan Teknologi Informasi.
Journal of Information System. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. 2012
El Chris Natalia. Remaja, Media Sosial, Cyberbullying.
Jurnal Ilmiah Komunikasi. Universitas Katolik Indonesia. 2016
Ayu Mila Ningrum. Memahami Fenomena Cyberbullying yang
Dilakukan User terhadap Selebriti. Universitas Diponegoro
Gerald
Corey. Teori dan Praktek Konseling dan
Psikoterapi. Bandung.Refika Aditama. 2013
Elisabeth
Christiana. Konseling Rasional, Emotif
Perilaku untuk Meningkatkan Percaya Diri
Siswa Korban Verbal Bullying.
Jurnal Bimbingan dan Konseling. Universita Negeri Surabaya.
[1] Lusi Alisah dkk. Studi Fenomenologis Memahami Pengalaman
Cyberbullying Pada Remaja. Jurnal Sosial Politik. Universitas Diponegoro. 2018
[2] Flourensia Sapty Rahayu. Cyberbullying Sebagai Dampak Negatif
Penggunaan Teknologi Informasi.
Journal of Information System. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. 2012
[3] El Chris Natalia. Remaja, Media Sosial, Cyberbullying.
Jurnal Ilmiah Komunikasi. Universitas Katolik Indonesia. 2016
[4] Ayu Mila Ningrum. Memahami Fenomena Cyberbullying yang
Dilakukan User terhadap Selebriti. Universitas Diponegoro
[5] Gerald Corey. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung.Refika Aditama.
2013
[6] Elisabeth Christiana. Konseling Rasional, Emotif Perilaku untuk
Meningkatkan Percaya Diri Siswa Korban
Verbal Bullying. Jurnal Bimbingan
dan Konseling. Universita Negeri Surabaya.