Kamis, 05 Desember 2019

CYBERBULLYING MENJADI PINTU UTAMA UNTUK BUNUH DIRI



            Globalisasi membawa manusia pada suatu dunia tanpa batas, globalisasi memicu revolusi di bidang ICT ( Information and Communication Technology) yang saat ini menjadi sebuah tantangan bagi generasi muda  yang paling mengkhawatirkan adalah situs jejaring sosial. Dengan berkembangmya teknologi internet memberikan dampak positif maupun dampak negative bagi generasi muda, salah satu dampak negative yang paling sering terjadi adalah cyberbullying, dimana pelaku menghina, melecehkan atau mengejek korban menggunakan media internet melalui ponsel atau perangkat elektronik lainnya dengan tujuan agar korban merasa terluka dan terganggu. Ada banyak cara pelaku untuk menyerang korban salah satunya dengan mengirimkan pesan dan gambar yang melecehkan.[1]
            Saat ini cyberbullying sudah terjadi di beberapa Negara bukan hanya di Indonesia saja, di negara lain ada banyak kasus cyberbullying yang berakhir dengan kejadian yang lebih serius seperti bunuh diri.[2] Walaupun tidak terjadi secara face to face, cyberbullying juga bisa memakan korban, Hujatan yang diterima seseorang melalui dunia maya bisa  mengganggu kondisi psikologis seseorang. Sebagai contoh kasus Katie Web, remaja asal Inggris yang bunuh diri akibat tidak kuat menerima cacian dari teman temannya hanya karena dia tidak memiliki gaya rambut yang keren dan tidak memakai gaya rambut yang keren dan tidak memakai pakaian bermerek.[3]
            Dari banyak kasus cyberbullying yang terjadi, hampir sebagian besar dilakukan oleh anak anak dan remaja, hal ini terbukti dari data komisi perlindungan anak Indonesia, sejak tahun 2011 hingga 2016 ditemukan sekitar 253 kasus bullying, terdiri dari 122 anak yang menjadi korban dan 131 anak menjadi pelaku. Namun, selain anak anak dan remaja ada juga dari kalangan selebriti yang menjadi korban tindakan cyberbullying. Seperti dalam hasil penelitian Jacek Pyzalki (2013) yang mengatakan bahwa ada kelompok kelompok lain selain teman sebaya yang sering dibully atau menjadi korban dari tindakan agresi online. Salah satunya adalah agresi terhadap selebriti (misalnya actor, penyanyi dll). Selain itu, dalam penelitian Hildawati (2018) mengemukakan bahwa pembenci itu muncul di sosial media yang sering sekali korbannya adalah selebriti, bahkan beberapa orang sampai membuat akun haters di sosial media untuk menjelek jelekkan.[4]
            Bedasarkan permasalahan yang diuraikan, perlu sekali untuk melakukan kajian yang lebih mendalam terkait peristiwa cyberbullying yang bisa berdampak pada korban seperti marah, dendam, tertekan, malu, depresi bahkan  dampak yang paling ekstreem bisa mengakibatkan bunuh diri karena merasa bahwa dirinya tidak berharga. Maka dari itu perhatian dan penanganan khusus untuk korban cyberbullying sangatlah diperlukan, adapun cara mengatasi korban cyberbullying dengan konseling, salah satunya adalah Konseling Rational Emotif. Pada konseling ini menekankan bahwa menyalahkan adalah inti sebagian besar gangguan emosional. Oleh karena itu, jika kita ingin menyembuhkan orang yang neurotik atau psikotik, kita harus menghentikan penyalahan diri dan penyalahan terhadap orang lain yang ada pada orang tersebut. Orang perlu belajar untuk menerima dirinya sendiri dengan segala kekurangannya.
            Kecemasan bersumber pada pengulangan internal dari putusan “Aku tidak menukai tingkah laku sendiri dan aku ingin mengubahnya” dan kalimat menyalahkan diri “Karena tingkah laku yang keliru dan kesalahan kesalahanku, aku menjadi tidak berharga, aku malu dan aku patut menderita.” Menurut rational emotif kecemasan semacam itu tidak berguna. Orang bisa dibantu untuk menyadari bahwa putusan putusan irasional yang dipertahankannya itu keliru dan untuk melihat penyalahan diri yang telah menjebaknya.[5] Dalam  proses melakukan konseling rational emotif adapun tahap tahapnya adalah sebagai berikut :
            Tahap 1  Proses dimana konseli diperlihatkan dan disadarkan bahwa mereka tidak logis dan irrasional. Proses ini memnbantu klien memahami bagaimana dan mengapa dapat terjadi irrasional. Pada tahap ini konseli diajarkan bahwa mereka mempunyai potensi untuk mengubah hal tersebut.                                                
            Tahap 2 Pada tahap ini konseli dibantu untuk yakin bahwa pemikiran dan perasaan negatif tersebut dapat ditantang dan diubah. Pada tahap ini konseli mengeksplorasi ide-ide untuk menentukan tujuan-tujuan rasional. Konselor juga mendebat pikiran irasional konseli dengan menggunakan pertanyaan untuk menantang validitas ide tentang diri, orang lain dan lingkungan sekitar.
             Pada tahap ini konselor menggunakan teknik-teknik konseling REBT untuk membantu konseli mengembangkan pikiran rasional. Tahap akhir, konseli dibantu untuk secara terus menerus mengembangkan pikiran rsional serta mengembangkan fillosofi hidup yang rasional sehingga konseli tidak terjebak pada masalah yang disebabkan oleh pemikirian irasional. Jadi tahap-tahap ini merupakan proses natural dan berkelanjutan. tahap ini menggambarkan keseluruhan proses konseling yang dilalui oleh konselor dan konseli.[6]
            Bedasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa di era globalisasi saat ini teknologi yang semakin canggih banyak generasi muda yang salah dalam menggunakan teknologi salah satunya adalah kasus cyberbullying yang bisa berdampak depresi hingga bunuh diri terhadap korban, adapun cara menangani korban cyberbullying dengan konseling rational emotional.
            Cyberbullying bukanlah persoalan sepele karena cyberbullying bisa berdampak pada  depresi, jika anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater maupun klinik kesehatan tertentu.

DAFTAR PUSTAKA
            Lusi Alisah dkk. Studi Fenomenologis Memahami Pengalaman Cyberbullying Pada Remaja. Jurnal Sosial Politik. Universitas Diponegoro. 2018

            Flourensia Sapty Rahayu. Cyberbullying Sebagai Dampak Negatif Penggunaan Teknologi Informasi.  Journal of Information System. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. 2012

            El Chris Natalia. Remaja, Media Sosial, Cyberbullying. Jurnal Ilmiah Komunikasi. Universitas Katolik Indonesia. 2016
           
            Ayu Mila Ningrum. Memahami Fenomena Cyberbullying yang Dilakukan User terhadap Selebriti. Universitas Diponegoro

            Gerald Corey. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung.Refika Aditama. 2013
            Elisabeth Christiana. Konseling Rasional, Emotif Perilaku untuk Meningkatkan Percaya Diri  Siswa Korban Verbal Bullying.  Jurnal Bimbingan dan Konseling. Universita Negeri Surabaya.



[1] Lusi Alisah dkk. Studi Fenomenologis Memahami Pengalaman Cyberbullying Pada Remaja. Jurnal Sosial Politik. Universitas Diponegoro. 2018
[2] Flourensia Sapty Rahayu. Cyberbullying Sebagai Dampak Negatif Penggunaan Teknologi Informasi.  Journal of Information System. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. 2012
[3] El Chris Natalia. Remaja, Media Sosial, Cyberbullying. Jurnal Ilmiah Komunikasi. Universitas Katolik Indonesia. 2016
[4] Ayu Mila Ningrum. Memahami Fenomena Cyberbullying yang Dilakukan User terhadap Selebriti. Universitas Diponegoro
[5] Gerald Corey. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung.Refika Aditama. 2013
[6] Elisabeth Christiana. Konseling Rasional, Emotif Perilaku untuk Meningkatkan Percaya Diri  Siswa Korban Verbal Bullying.  Jurnal Bimbingan dan Konseling. Universita Negeri Surabaya.

CYBERBULLYING MENJADI PINTU UTAMA UNTUK BUNUH DIRI

            Globalisasi membawa manusia pada suatu dunia tanpa batas, globalisasi memicu revolusi di bidang ICT ( Information and Commun...